Sunday, May 21, 2017

Dalam Hitungan Hari,

Masyarakat muslim akan memasuki bulan Ramadan. Ada satu kebiasaan yang saya, mama, dan adik lakukan sebelum memasuki Ramadan, yaitu nyekar atau ziarah ke makam. Makam papa. Makam teteh.

Kemarin adalah saatnya. Dijalan saya menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Sejak beberapa minggu belakangan saya selalu tidur di atas jam 12 malam dan sulit tertidur, jadi mumpung ada yang nyetirin saya bisa meneruskan tidur selama perjalanan Jakarta - Serang.

Sampai disebuah makam, kami disambut cuaca yang cukup terik melebihi teriknya cuaca Jakarta. Kering. Panas. Angin pun bahkan ga banyak bertiup. Kami parkir di depan pintu sebuah pekuburan. Sepi.

Pintu besi pekuburan tertutup rapat. Biasanya ada seorang penjaga yang bertugas membersihkan makam. Kali ini hanya kami berempat yang ada, ditemani gemerisik daun lontar kering yang kami injak.

Bahkan gubuk yang ada ditengah makam pun terlihat ga terawat. Gubuknya hampir rubuh. Bangku kecil terbuat dari kayu yang ada di dalamnya pun sebagian hilang dan rusak. Rumput gajah meninggi disetiap petak tanah. Daun lontar kering berserakan menutupi makam. Entah kemana sang penjaga makam.

Kami menghampiri makam yang dituju. Namun, bersih. Rumput liar sudah tercabut dari tanah sampai ke akarnya. Daun-daun kering berada jauh di pinggir makam. Tanahnya memang sedikit kering, namun ga sekering makam lainnya. Entah siapa yang sudah membersihkannya. Mungkin saudara kami yang lain sudah datang terlebih dahulu untuk menghantarkan doa.

Setiap tahun kami mengunjungi makam ini. Tujuh belas tahun sudah. Mendatangi 'rumah' yang sama. Tempat yang sama. Makam yang sama. Nisan yang sama. Bersama orang yang sama. Doa yang sama.

Dan biasanya saya datang dengan diiringi perasaan yang sama: gitu aja. Ga merasakan sedih. Ataupun haru. Terlalu lama menyimpan kesedihan, kadang membuat saya lupa untuk menghitung kebahagiaan. Jadi saya memilih, untuk biasa aja. Bertahun-tahun setiap mendatangi makam ini, saya selalu merapal mantra yang sama, dalam hati.

Bahwa seseorang yang sudah pergi, ga akan pernah kembali. Bahwa ga ada satu hal pun, yang perlu saya sesali. Bahwa apapun yang terjadi dengan saya hari ini, pasti bisa saya lewati. Bahwa apapun yang saya takuti di dunia ini, ga akan pernah terjadi. Bahwa masih ada alasan lain, mengapa hidup saya harus terus berjalan sampai akhir.

Akan tetapi, mantranya ga berlaku kemarin lalu.

Ditengah rapalan doa yang kami panjatkan, saya ga kuasa membendung genangan air dipelupuk mata. Entah untuk alasan apa ia turun perlahan dan membasahi bumi.

Mungkin,

Sejenak saya lupa caranya.

Menahan rindu.

Atas kehilangan.

Kamu pernah begitu?

No comments:

Post a Comment