Friday, January 6, 2017

Buram


Bukan mata kamu yang salah kok. Fotonya memang buram. Saya tersangka utama, yang mengabadikan senja sore ini.

Ceritanya ketika pulang kantor hari ini, jalan yang biasanya saya lewati ditutup dan ga ada pemberitahuan. Yaaa siapa saya juga sampai harus dikasih tau. Sempat kesal karena sudah jalannya sempit, jadi macet karena harus putar balik, waktu terbuang, terus ga ada yang ngasih tau.

Padahal sebelum masuk gang yang akan saya lewati itu, ada polisi cepek. Saya tau ini jadi kesempatan bagi mereka, untuk mendulang receh lebih banyak. "Tapi kok ya mereka jahat", pikir saya. *dramak* Kalau memang ga bisa lewat dari awal seharusnya palang pintu ditutup. Jadi kan saya bisa langsung putar balik. 

Akhirnya setelah putaran dan antrian panjang, saya memutuskan untuk keluar lewat jalan lain. Jalan keluar yang satu ini memang agak jauh dan memutar. Sambil menggerutu dan menunggu antrian keluar, saya memandang langit-langit lalu amazed sendiri, "senjanya cantik banget".

Berhubung jarang lihat matahari tenggelam di Pulo Gadung, jadi agak excited begitu menemukan. Sambil berkendara, saya coba mengabadikan. Karena ga bisa berhenti lama, walhasil gambar yang terekam ga seperti yang saya kira. Beginilah. Namun kesal hilang bersama gambaran senja yang saya simpan di kepala.

***

Kamu mungkin pernah merasa pandanganmu buram. Kabur. Ga bisa melihat apa-apa. Hidup terasa ga menyenangkan. Semua serba ga nyaman. Samar-samar. Apa-apa yang kamu lihat semuanya pudar. Bahkan kamu membuat orang lain percaya bahwa apa yang kamu lihat benar.

Padahal mungkin saja kamu hanya lupa untuk 'mengelap' kacamata. Kamu membiarkan debunya menempel pada kacamata hingga pandanganmu jadi buram. Debu-debu penyakit hati. Debu prasangka. Debu yang kalau dibiarkan terlalu lama bisa membuat kamu jatuh.

Jadi, sudah 'mengelap' kacamatamu hari ini?

No comments:

Post a Comment