Wednesday, March 25, 2015

6 Jenis Teman Makan Siang

Pada sebuah makan siang, apa yang biasanya paling kamu nanti? Makanan enak? Tempat yang nyaman untuk menyandarkan punggung? Perut kenyang? Atau teman bicara yang menyenangkan?

Yes, adanya teman bicara seringkali jadi faktor utama kenapa kamu menantikan makan siang. Dengan adanya teman bicara, kamu bisa mengalihkan pikiran sejenak dari kemumetan pekerjaan hari itu. Hasil daripada observasi asal-asalan saya selama makan siang, saya mengklasifikasikan beberapa teman yang sekiranya bisa kamu temukan juga selama makan siang. :D

1. Teman Apa Adanya
Teman model gini biasanya niatnya lurus. Keluar makan siang emang beneran mau makan. Ga da modus apapun. Ciri-ciri teman apa adanya, begitu makan siang tersaji langsung khusuk ama makanan. Pandangan mata ga berpaling dari piring, bahkan hingga butir nasi terakhir. Duileee, serius amat kayak mo nikah besok!

2. Teman Tapi Mesra
Teman yang satu ini, begitu pantat nempel dikursi langsung mesra sama gadget. Ibarat pacaran baru sebulan dua bulan, masih posesip ga mau lepas. Begitu makanan dateng lebih posesip lagi ama gadgetnya, poto sini poto sana. Bukannya berdoa dulu malah poto-poto. Ga jarang temen makan siang malah dianggurin. *lah jadi curhat*

3. Teman Pak Tarno
Tau Pak Tarno, kan? Bapak yang terkenal dengan "Pok-pok-pok jadi apa sekarang?". Teman model Pak Tarno ini nanyaaa mulu kerjaannya, "Pok-pok-pok jadi dia gimana sekarang?". Kepo maksimal. Pengen tau aja apdetan seantero jagad raya. Curiganya pergi makan siang cuma kamuflase untuk dapetin bahan gosipan. *suudzon parah*

4. Teman Tanpa Beban
Teman yang kayak begini, kalo makan siang suka bahas hal-hal yang berat. Ga lebih berat dari berat badan saya sih, tapi tetep bikin jidat mengkerut. Seolah ga punya beban hidup, sambil meretelin paha ayam dengan entengnya nanya, "Menurut lo gimana caranya growth bisa terus bertumbuh kalo semua budget promosi harus dipangkas?". Ya lo pikir aja sendiri nyet! Lagi makan siang keleus!

5. Teman Curcol
Nah yang ini kebalikannya teman Pak Tarno. Kalo teman Pak Tarno kepo maksimal, justru teman yang satu ini seneng banget sale info tanpa perlu diminta. Dikit-dikit curhat. Jurus pamungkasnya adalah "tapi lo jangan kasih tau siapa-siapa ya", padahal bisa jadi kamu adalah orang terakhir yang tahu info tersebut.

6. Teman Konsultasi
Kalo deket-deket sama teman yang ini semua masalah pasti (kerasa) beres. Bukan dia bukan tukang ledeng, melainkan konsultan cabutan. Kalo curhat apapun sama dia, yang ada kamu akan diberikan wisdom-wisdom biar otak kamu tetep lurus di jalan-Nya, jalan yang Engkau ridhoi. Sungguh sangat positip ting-ting.

Nah, segitu dulu sahabat dan handai taulan semua.
Mungkin ada yang mau nambahin? :D

Just Saying

Sometimes it's easy for you to say that "you supposed to be like this, you supposed to be like that" when you're not on her or his shoes. People have their reasons to decide something. Inspite of all, you just have to stand on your feet now and make a new hope.

Thursday, January 22, 2015

:)

Don't be sad,
Because you're saying goodbye.
You should be happy,
Because you have memories,
With them that you'll cherish,
Forever.

Tuesday, January 6, 2015

23:58

Seratus dua puluh detik menuju pukul dua belas dini hari.

Apa yang kamu lakukan di tengah malam butut gini? Baru pulang? Baca novel? Whatsapp-an? Guling-guling teu puguh? Atau nulis blog kaya saya?

Apapun yang kamu lakukan, pada akhirnya kita menuju hal yang sama. Menuju pagi.

Kapan terakhir kali kamu melepas rindu pada matahari pagi, yang muncul tepat setelah malam menyerahkan diri?

Saya sekitar 8 bulan lalu. Matahari pagi yang sengaja saya tunggu di tengah pertambahan usia.

Warnanya keemasan. Cantik. Pagi di Punthuk Setumbu.




Saturday, January 3, 2015

Afternoon Quote

Anyone who says sunshine brings happiness,
Has never danced in the pouring rain.

Thursday, January 1, 2015

2015

Happy new year, anyway.
How's life?
"Never been good than today", selalu itu yang saya katakan jika bertemu kawan lama dan bertanya bagaimana hidup saya sejauh ini.
Pertanyaan basa-basi. Dan jawaban yang cukup optimis, menurut saya. Biasanya pertanyaan awal tadi akan dibarengi dengan pertanyaan lainnya seperti,
"Lalu gimana pekerjaan?"
"Pertemanan?
"Keluarga?"
"Kesehatan?"
"Percintaan?"

Dan di akhir percakapan tanpa sadar mereka sibuk membandingkan. Membandingkan waktu yang sudah mereka lewati, dengan waktu di tahun sebelumnya. Membandingkan waktu mereka dengan waktu teman lain, yang sepintas lalu mereka lihat di linimasa.

Kemudian dengan kesadaran penuh, kamu mulai terpengaruh membandingkan waktumu dengan mereka. Waktu ketika mereka sudah menduduki satu posisi penting, sementara kamu masih bergumul dengan rekan kerja yang sama. Waktu mereka mulai melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri, sementara kamu masih disibukkan dengan laporan bulanan. Waktu mereka bisa bepergian ke tempat-tempat eksotis melihat hingar bingar dunia, sementara kamu masih terjebak disini dengan rutinitas yang sama setiap hari. Waktu mereka sibuk menenangkan rengekan wajah malaikat di rumah yang meminta mainan, sementara kamu sibuk di depan mereka menghabiskan jatah makan siang. Waktu mereka sudah menempati rumah impian dan memiliki kendaraan untuk berlindung dari panas ibu kota, sementara kamu bangun tiap dini hari demi mengejar kereta pagi. Waktu mereka merasa "seperti inilah kehidupan", sementara kamu merasa "kok gini amat kehidupan".

Waktu yang seolah-olah bergerak maju melewati kamu. Dua puluh empat jam yang sudah tidak lagi cukup. Waktu yang sebenarnya ga pernah kemana-mana. Hanya kamu yang mungkin terlalu malu untuk mengaku. Bahwa kamu sudah berada pada batas mampu. Dan lupa menghitung apa-apa yang kamu perlu, lantas berbaik hati Dia beri untuk kamu.

---

Tahun ini mungkin waktu yang tepat. Untuk saya mengendapkan kekhawatiran. Berhenti membandingkan. Menaikkan harapan, atas apa yang sudah saya lakukan setahun lalu. Meninggalkan banyak kebaikan untuk dikenang. Serta menjadi pribadi yang mempunyai hidup lebih panjang dari umur saya nanti.

Jika segala sesuatunya adalah ketidakpastian. Maka apapun berarti mungkin.

Setuju?

Wednesday, December 31, 2014

Senja di Akhir Desember

"Aku ga tau gimana caranya bikin kamu happy"
"Kamu kenal aku lama dan masih ga tau gimana caranya menghiburku?"
"Hmm... Banyak hal yang kamu suka dan menurutku bisa membuatmu senang"
"Seperti?"
"Menghirup wangi tanah basah ketika hujan"
"Kamu tau itu"
"Tapi aku ga tau apa saat ini dengan begitu kamu akan merasa happy"

***

Sore itu hujan turun dengan deras. Senja duduk pada sofa bulat berwarna jingga yang sengaja ia letakkan di teras lantai dua dekat kamarnya, jika sewaktu-waktu langit datang membawa hujan. Senja tak membiarkan sesungging senyum menghiasi sudut bibirnya. Hanya ada tatapan kosong dan puluhan tanya yang menghiasi kepalanya.

Langit sengaja menghampiri Senja di teras sore ini. Ia mengenal Senja sejak pertama kali langkah kaki kecil mereka bisa menapak. Dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk mengerjakan tugas sekolah. Hingga sekarang pun mereka masih suka bertemu sekedar membahas hal yang tak perlu. Mereka tinggal berseberangan. Semakin memudahkan untuk saling menyapa dan bertukar cerita.

Langit senang menemani Senja menikmati hujan. Terlebih sore ini, hujan ternyata datang tak sendiri. Ia membawa kabar duka yang membuat Senja semakin ingin bertemu langit.

"Aku hanya ingin berpijak pada bumi"
"Kamu sudah mendapatkannya"
"Bukan bumi yang ini"
"Bumi yang mana?"
"Kamu tau kenapa orang tuaku memberi nama Senja?"

Senja sengaja mengalihkan pembicaraan.

"Mungkin karena mereka suka melihat senja"

Langit menjawab tanpa berpikir. Senja tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Langit bisa melihat dari mata Senja yang sedikit memicing.

"Mungkin, tapi bukan itu"
"Terus apa?"
"Ibu sering menceritakan sebuah dongeng perihal namaku"

Dahulu bumi sering merasa cemburu pada langit. Langit memiliki awan, matahari dan hujan yang menemani. Setelah hujan, bahkan masih ada pelangi yang mengiringi hingga membuat langit tersenyum simpul. Kala itu, bumi yang sedang bersedih meminta pada Tuhan untuk mengirimkan fajar dan senja agar bumi tak lagi merasa sendiri.

"Lalu kaitannya dengan namamu?"
"Ayah dan ibu adalah bumiku"
"Dan kamu senja yang mereka minta?"

Senja hanya diam sambil mengawasi titik-titik hujan yang mulai berani menyentuh keningnya.

"Mereka berharap aku bisa menemani hingga mereka menutup hari"
"Dan kamu sudah memenuhi janji"
"Iya, aku sudah memenuhi janji"

Langit mengambil secarik kertas yang sudah ia siapkan dan memberikan pada Senja sebelum ia beranjak pergi.

Senja membuka perlahan dan menyesapi tiap kata dalam hati.

Dear Senja,
Jika kamu merasa bumi ini seperti ingin runtuh dan bukan lagi tempat yang nyaman untukmu berpijak, then look at the sky. Bahkan langit masih punya pelangi setelah hujan.

Senja menatap langit sesaat, lalu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan menyalakan televisi. Menanti kabar apakah bumi masih mampu dipijak. Langit sedang mengirim pesan, mungkin Senja hanya perlu meng-amin-i.

Saturday, December 27, 2014

Format? Yes!

Saya baru aja berduka karena foto-foto di telepon pintar saya ilang semua. Foto yang jumlahnya ratusan ribu itu. Dan kenangan di dalamnya *mulai drama*. Padahal uda dipindahin fotonya, tapi ternyata... Ah sudahlah! Kebodohan saya sih, format hp ga ngecek dulu.

Terus ini lagi berusaha nginget foto apa aja yang saya simpen. Tapi ga berhasil. Iya, memory otak saya emang cuman setingkat di atas ikan cupang. Itu dia kenapa saya suka nulis hal-hal yang ga penting. Buat ngingetin kalo saya pernah melakukan hal-hal bodoh. Dan begitu baca ulang, begonya ternyata masih dilakuin. Haha.

Tools apa buat balikin isi memory card yang udah di format sih? Dan mengembalikan dalam bentuk folder utuh beserta isinya? *banyak mauuu*

Oke, fine kalo ga mau kasih tau! Cukup sampai disini hubungan kita.

Kzl ga sih bacanya? Hahaha.

Baiklah, kemarin saya coba install satu software. Aduh saya lupa namanya. Berhasil balikin ribuan foto sih, tapi ga ngebalikin folder yang saya mau. Malah foto-foto aneh yang muncul, entah darimana asalnya. Ngerasa ga punya foto dengan pose itu. Atau saya lupa punya foto itu. Zzz...

Coba saya install software yang lain dulu ya. Nanti kalo uda berhasil saya update lagi. *berasa banyak fansnya* :D :D :D

Wednesday, December 3, 2014

Once In a Life Time

Once in a life time. Akan ada aja orang yang ribet ngomentarin hidup kamu. Ngejegal kaki kamu saat kamu lagi asik jalan. Ngacak-ngacak mood kamu saat kamu lagi ngerasa happy. Atau sibuk cari kesalahan dari perbuatan yang ga pernah kamu lakukan.

Tapi itu bukan alasan untuk kamu boleh merasa kecil. Serta mengabaikan seluruh kemampuan yang kamu punya. Kamu berhak untuk merasa bahagia. Pun merasa berharga.

Dengan caramu. Tentunya.

Saturday, November 22, 2014

Azab Blogger Kafir

Hari rabu lalu, secara ga sengaja saya ketemu temen blogger jaman dahulu kala di kantor Google Indonesia. Kebetulan saya datang sebagai undangan dan beliau ini salah satu pembicaranya. Saat ini beliau merupakan seseorang yang cukup terkenal di ranah digital. Ga usah disebut siapanya lah ya. Pokoknya sampai detik ini beliau masih rajin ngeblog, bahkan makin aktif di social media channel lainnya.

Dari raut mukanya keliatan banget kalo beliau kebingungan waktu saya SKSD *istilah ini masih lazim digunain ga sih?*. Mungkin beliau lagi berusaha nginget-nginget siapa saya. Mungkin juga beliau masih ga inget siapa saya hingga saat ini. HAHA.

Well, percakapan seadanya sambil tukeran nomor (dengan managernya) pun dimulai.

"Lo masih ngeblog?", tanya beliau.
"Masih siiihhh.." *blogger kafir*
"Kalo si anu masih suka ngeblog?"
"Masih tapi jarang banget"
"Iya nih, yang lain uda pada nikah trus sibuk"

Emang sih, temen sepermainan ngeblog dulu beberapa sudah menikah dan ga aktif ngeblog. Atau mungkin masih ngeblog tapi saya yang ga ngikutin. Entahlah.

Saya dan beliau ini memang ga pernah berkomunikasi secara intens dari dulu. Hanya pernah kopdaran sekali, berada dalam suatu event beberapa kali dan saling meninggalkan jejak di blog masing-masing dulu. Namun karena saya subscribe blognya beliau, jadi masih update dikit lah dengan kehidupan sehari-harinya. Melihat track record nya, harusnya saya ga heran yah kalo dia ga inget siapa saya.

Atuh da saya mah siapa?

***

Dih, sebenernya yang mau saya bahas bukan itunya lagiii.

Terus ngapain nulis panjang-panjang, Chie? *yang baca mulai kesel*

Masalahnya saya lupa awalnya mau cerita apa. :))