Monday, August 7, 2017

Artis

Ceritanya lagi buat report sambil denger lagu di bawah. Tiba-tiba aja kepikiran, "artis-artis apa ga lelah ya harus terus terlihat baik-baik aja di depan orang banyak?". Terus kalau ga ramah nanti dibilangnya sombong. Terus lapor ke akun gosip di instagram. Terus di bully. Terus tutup akun instagram. Haha. Iya otak saya serandom itu.

Terus keingetan, kemarin saya abis baper gara-gara nonton WGM episode Jang Wooyoung & Park Se-young. Karena suka liat chemistry mereka, saya browsing dong pengen tau kehidupan mereka selanjutnya setelah bubar syuting, dan ternyata mereka hanya menganggap itu hanya akting aja. Duh ya artis, kok kuat banget sih ngejalanin hal kaya gitu ga pake baper, terus lupa aja sama perasaannya begitu kelar syuting.

Yakali mereka kan artis, chie. Uda konsekuensi.

Iyasih, mau bukan artis macem saya juga tetep ada konsekuensi dari tiap hal yang dilakukan ya. Apalagi mereka, pasti tekanannya lebih berat ya, cuma saya ga tau aja. Kebutuhan dicintai sama fans bisa jadi lebih besar daripada rasa yang mereka punya.

Jadi terima aja nih konsekuensinya?

Friday, August 4, 2017

Life Is Like A Camera

You focus on what's important
Capture the good times
Develop from the negative
And if things don't work out 
Take another shot!

Monday, July 31, 2017

6 Alasan Kenapa Saya Follow Akun Instagram Kamu

Instagram beberapa bulan belakangan memang sedang jadi mainan yang menyenangkan. Banyak fitur baru yang bisa di eksplor, seperti insta story beserta filter dan stikernya, boomerang, bahkan sekarang fotonya sudah bisa di archive jadi kamu bisa tetap menyimpan foto memalukan dari homepage instagram.

Saya sih cuma senang nyoba sekali-kali fiturnya lalu kembali ke kebiasaan awal, ya hanya upload aja. Tapi sudah dua bulan terakhir saya ga unggah foto ke instagram, hanya masih sight seeing aja sih. Lihat-lihat mungkin ada hal yang menarik, lucu, dan bisa menginspirasi. Setelah liat-liat biasanya berakhir dengan follow akun instagram tersebut.

Ada beberapa pertimbangan kenapa pada akhirnya saya mau memfollow akun instagram seseorang.

Pertama, ga narsis
Ini penting banget. Meski kadang kenal dengan orangnya, saya enggan memfollow akun instagram yang isinya hanya muka dia aja. Narsis sekali waktu boleh sih, ga da yang larang. Jadi daripada nambah dosa karena misuh-misuh liat muka orang yang ga diharapkan, lebih baik ga follow. Hahaha.

Kalau kamu sekali waktu ingin narsis boleh aja, mungkin angle nya bisa dibuat lebih wide atau long shoot sehingga suasana disekeliling bisa lebih terlihat dan kamu bisa cerita lebih banyak di caption.

Kedua, konsep foto yang kreatif
Banyak sekali objek foto berseliweran disekitar yang bisa dijadikan konten di instagram, ga melulu manusia. Banyak instagramer yang suka bunga, hewan peliharaan, pemandangan, atau makanan. Hal yang mereka suka mereka jadikan point of interest dan menggunakan unsur lainnya sebagai pelengkap sehingga gambar lebih menarik untuk dilihat.

Bagi yang suka memasak, mereka membuat bento lucu lalu mengunggahnya ke instagram. Instagramer lain, mengreasikan daun, ranting, serta sedikit sentuhan desain menjadi sebuah cerita. Ada pula instagramer yang menetapkan konsep monokrom pada setiap foto di instagram mereka.

Ketiga, sudut pengambilan foto yang unik
Memang sih di instagram kualitas lebih penting daripada kuantitas. Pada suatu moment adakalanya kamu ingin mengunggah semua foto yang kamu punya kan?

Jangan sedih dulu, beberapa instagramer mengakalinya dengan mengambil banyak foto pada scene yang sama, namun dari angle atau sudut yang berbeda. Foto jadi menarik dimata saya karena bisa memberikan perspektif yang berbeda pula.

Keempat, caption yang menarik
Instagram memungkinkan kamu untuk menulis caption hingga maksimal 2.200 karakter, namun ga semuanya ditampilkan pada feed. Instagram hanya akan menampilkan 3-4 baris caption di bawah postingan foto. Jadi kamu bisa tulis bagian penting dan menarik di 3-4 baris awal, agar followers seperti saya bisa memutuskan dengan cepat untuk follow atau ga.

Menulis caption yang menarik tentu saja jadi tantangan tersendiri. Saya suka jika instagramer bisa bercerita tentang sesuatu dibalik fotonya, ga hanya meletakkan hashtag atau emoji. Caption bisa berupa behind the scene foto tersebut, atau berupa quote yang masih berhubungan dengan foto, atau berupa call to action yang tentunya bikin saya pengen jawab, atau sesuatu hal yang menarik lainnya.

Salah satu teman saya bahkan membuat sebuah cerpen melalui foto instagramnya. Menarik kan?

Kelima, sesuai interest
Saya kebanyakan follow akun foodgramers atau travelgramers, karena saya suka jajan dan jalan-jalan. Tentunya akun yang saya ikuti sudah memenuhi keempat kriteria sebelumnya ya.

Keenam, ngefans
Alasan keenam ini bisa meruntuhkan lima alasan sebelumnya. Mau isinya muka dia semua kadang ga ngaruh sih, tetap saya follow. Makin banyak muka dia malah makin senang. Hehe.

Kalau kamu, biasanya follow akun instagram seseorang karena apa?

Monday, May 22, 2017

Berawal Dari Status Facebook


Beberapa hari lalu, saya iseng membuka facebook dan menemukan status seorang teman yang sebegitunya membela salah seorang habib. Lain waktu, saya melihat status seorang teman sebegitu bencinya terhadap seseorang dari etnis tertentu.

Melihat banyaknya komentar atas status tersebut, saya makin gemas. Gemas ingin ikutan komentar, tapi males ribut. Walhasil beberapa teman berhasil saya unfriend, demi menghindari menularnya emosi negatif terhadap diri saya.

Isu etnis dan agama terlalu sensitif untuk sebagian orang. Padahal Indonesia negara Republik, bukan negara Islam. Padahal Indonesia negara ber-Bhinneka Tunggal Ika. Padahal masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang rukun dan ramah tamah.

Namun, karena perbedaan ras dan agama beberapa orang saling membenci. Beberapa orang hanya mengambil sebagian ayat untuk membenarkan sesuatu, tanpa mempunyai dasar yang kuat. Beberapa orang men-generalisasi etnis tertentu, tanpa mengenal orang tersebut lebih dalam. Beberapa orang merasa bahwa pendapatnya yang paling benar. Dan lupa akan esensi hidup rukun yang sebenarnya.

Sebagai pribadi, saya menyayangkan hal tersebut. Dengan adanya tulisan ini, saya ga bermaksud memihak salah seorang dari mereka, siapapun yang mereka perbincangkan.

Bagi saya, hak kamu untuk memilih siapa dan apa yang kamu percaya. Hak kamu untuk beralasan dan berpegang teguh pada pendirian. Hak kamu untuk menyukai atau ga menyukai seseorang. Hak kamu juga untuk menyetujui atau ga menyetujui sesuatu hal.

Namun, kewajiban saya dan kamu untuk membuat Indonesia menjadi negara yang rukun dan damai. Jika ingin berpendapat, kamu bisa menggunakan cara yang tepat. Bahasa yang layak. Dasar yang berperikemanusiaan. Tanpa memaksa orang lain untuk percaya dengan apa yang kamu percaya. Tanpa memaksa orang lain untuk setuju dengan apa yang kamu utarakan. Tanpa menebar kebencian. Tanpa menjelek-jelekkan.

Mari menebar kebahagiaan aja. Setuju?

Sunday, May 21, 2017

Dalam Hitungan Hari,

Masyarakat muslim akan memasuki bulan Ramadan. Ada satu kebiasaan yang saya, mama, dan adik lakukan sebelum memasuki Ramadan, yaitu nyekar atau ziarah ke makam. Makam papa. Makam teteh.

Kemarin adalah saatnya. Dijalan saya menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Sejak beberapa minggu belakangan saya selalu tidur di atas jam 12 malam dan sulit tertidur, jadi mumpung ada yang nyetirin saya bisa meneruskan tidur selama perjalanan Jakarta - Serang.

Sampai disebuah makam, kami disambut cuaca yang cukup terik melebihi teriknya cuaca Jakarta. Kering. Panas. Angin pun bahkan ga banyak bertiup. Kami parkir di depan pintu sebuah pekuburan. Sepi.

Pintu besi pekuburan tertutup rapat. Biasanya ada seorang penjaga yang bertugas membersihkan makam. Kali ini hanya kami berempat yang ada, ditemani gemerisik daun lontar kering yang kami injak.

Bahkan gubuk yang ada ditengah makam pun terlihat ga terawat. Gubuknya hampir rubuh. Bangku kecil terbuat dari kayu yang ada di dalamnya pun sebagian hilang dan rusak. Rumput gajah meninggi disetiap petak tanah. Daun lontar kering berserakan menutupi makam. Entah kemana sang penjaga makam.

Kami menghampiri makam yang dituju. Namun, bersih. Rumput liar sudah tercabut dari tanah sampai ke akarnya. Daun-daun kering berada jauh di pinggir makam. Tanahnya memang sedikit kering, namun ga sekering makam lainnya. Entah siapa yang sudah membersihkannya. Mungkin saudara kami yang lain sudah datang terlebih dahulu untuk menghantarkan doa.

Setiap tahun kami mengunjungi makam ini. Tujuh belas tahun sudah. Mendatangi 'rumah' yang sama. Tempat yang sama. Makam yang sama. Nisan yang sama. Bersama orang yang sama. Doa yang sama.

Dan biasanya saya datang dengan diiringi perasaan yang sama: gitu aja. Ga merasakan sedih. Ataupun haru. Terlalu lama menyimpan kesedihan, kadang membuat saya lupa untuk menghitung kebahagiaan. Jadi saya memilih, untuk biasa aja. Bertahun-tahun setiap mendatangi makam ini, saya selalu merapal mantra yang sama, dalam hati.

Bahwa seseorang yang sudah pergi, ga akan pernah kembali. Bahwa ga ada satu hal pun, yang perlu saya sesali. Bahwa apapun yang terjadi dengan saya hari ini, pasti bisa saya lewati. Bahwa apapun yang saya takuti di dunia ini, ga akan pernah terjadi. Bahwa masih ada alasan lain, mengapa hidup saya harus terus berjalan sampai akhir.

Akan tetapi, mantranya ga berlaku kemarin lalu.

Ditengah rapalan doa yang kami panjatkan, saya ga kuasa membendung genangan air dipelupuk mata. Entah untuk alasan apa ia turun perlahan dan membasahi bumi.

Mungkin,

Sejenak saya lupa caranya.

Menahan rindu.

Atas kehilangan.

Kamu pernah begitu?