Tuesday, August 16, 2016

A Little Braver

I never get a serious ill, alhamdulillah. Selain daripada tulang geser, kepentok aspal, atau tb kelenjar. So, i don't know how does it feels.

Perasaan "kayanya umur gue ga panjang", ga pernah sekalipun terlintas dipikiran. Walau pada akhirnya meninggalkan dunia jadi obat paling mujarab, tapi selama tubuh dan pikiran masih sanggup berjuang, kenapa harus menyerah?

Hmm, I'm not a superwoman anyway. Lelah memang menghadapi sesuatu yang ga ngenakin dan berulang kali datang tanpa diminta. Dalam jangka waktu lama. Melakukan hal yang sama. Minum obat. Check up. Minum obat lagi. Check up lagi. Dan ga ada perkembangan. Been there, done that.

Tapi ini bukan lagi hanya tentang dirimu. Ketika kamu berjuang untuk sembuh, sebenarnya kamu juga memberi harapan pada banyak orang diluar dirimu, keluarga salah satunya. Jadi ketika alasan hidupmu sudah ga ada, berikan alasan itu pada orang lain agar kamu bisa tetap merasa hidup.

So, gimana rasanya setelah mendengar seorang teman divonis suatu penyakit dan ingin menyerah?

I don't know how big pressure that she get. Also i can't control her mind to think positive. But i believe the power of will. Ketika kamu berkeinginan kuat dan mengupayakan dengan sangat, maka Dia akan membantumu dengan caranya.

And when your life get hard, you will be more stronger and braver. Yang kamu bisa lakukan, berjuang untuk hari ini. Besok? Ga ada seorang pun yang tau.

So, here close next to me and listen to this.


Friday, August 12, 2016

I Love You

Biasanya ketika saya nonton drama korea, fokus ada di pemain dan jalan cerita aja. Nah kali ini karena ga begitu ngefans sama Kim Woo Bin dan Bae Suzy, saya bisa fokus juga sama musiknya. Ga tau kenapa, ketika nonton Uncontrollably Fond ini pendengaran saya agak lebih peka. Dan herannya, semua soundtrack yang ada di drama korea ini saya suka. Iya, semua banget. Lebih ramah di telinga aja gitu. Salah satunya yang ini nih.


I look at you, not able to say a word
The things i couldn't tell you
They remain for you in my heart

I fear, if i take step closer
I will end up crying
But if you feel the same way
I'll get closer to you

When i look at you, i cry
Tears keep falling
It breaks my heart
When you get tired on holding back, take my hand
I love you

Sometimes i listen to the wind that blows silently
Hoping it would bring me sounds of you calling for me

When i look at you, i cry
Tears keep falling
It breaks my heart
When you get tired on holding back, take my hand
I love you

The one person you'll run back to, after a long hard day
You know that's me

When i think about you, i cry
But at the same time, it makes me smile
You are my love after all
The one i've been hoping for, longing for
So here i'll stand, next to you, and love you

Tuesday, August 9, 2016

Kali Kedua

Ini salah satu lagu yang hampir dua minggu belakangan nari-nari di kepala. Kalau kamu tanya, lagi galau ya ci? Saya bisa bilang, ga. Hanya aja liriknya manis banget. Jadi saya suka. Selain itu, Raisa disini tetep cantik meski cuma keliatan samar-samar hitam putih. Dan kok ya saya agak keganggu sama Nicholas Saputra yang jadi model pria-nya. Kalau model pria diganti Keenan Pearce mungkin lebih pas. :D

Sunday, July 31, 2016

Fate

"Kamu ingat?"
"???"
"Aku pernah kasih kamu sebuah gambar ilustrasi"
"Oh, itu"
"Kamu masih simpan?"
"Ada"
"Wanna doing one thing for me?"
"Anything"
"Dibelakang frame aku meletakkan sebuah surat"
"Surat?"
"Ambil dan buang suratnya. Jangan tanya mengapa."
"Ok, i'll do it"
"Thank you"

***
Genta mendapat hadiah ulang tahun dari Vio. Entah yang ke berapa. Ia lupa. Sebuah ilustrasi dirinya. Cukup lama ia ga pernah memajangnya di sudut kamar. Terlalu banyak ilusi. Hari ini, demi sebuah permintaan, ia membuka kotak usang itu.

Genta membuka frame foto perlahan. It's been more than ten years. Crazy. Perempuan mana yang bisa-bisanya menyimpan surat selama puluhan tahun dan ga ada yang tahu, cuma Vio yang sanggup.
Susah payah Genta membuka framenya. Lengket. Jelas. Sudah lebih dari sepuluh tahun. Mungkin jika Vio ga menyapanya lebih dulu, ia ga akan pernah tau bahwa ada pesan tersembunyi.

Masih ada. Suratnya memang tergeletak disana. Sedikit berubah warna. Amplopnya berwarna orange kemerahan. Ditengah amplop tertera namanya "To: Magenta". Genta ragu. Haruskah ia membuangnya? Atau melihat isinya lalu membuangnya?

Violetta. Someone from the past. Someone who he care about, couple years ago. They're friend now. Kalau saja Genta tidak bisa menyebutnya sebagai teman baik. Cukuplah Vio ada di linimasanya sekarang. Ia memutuskan untuk membuka surat dan membacanya perlahan.
Dear Magenta,
If you open this letter now, maybe we're not hold the same hand right now. We were in a different planet. You're there and i'm here. You doing that and i'm doing this. Actually, we're too cute to be separated isn't?
I still remember when first time i saw you. You're a kind man, i know it. And through this letter, i just wanna say that i do care about you. Whatever happen, you always have a place in my life. Be a good man, be a good friend, be a good husband, be a good dad.
That's all i can write to you. If fate bring us one day, maybe we can have a good milk, a good laugh, and warm conversations with pouring rain over the window.
See you when i see you.
Love,
Violetta
Genta menghela napas panjang. Ia memasukkan surat ke dalam amplop. Merobeknya menjadi dua bagian. Dan memasukkannya ke keranjang sampah di sudut kamar.

Can we have a good milk tonite? Its rainy day btw, i need a hot milk to warm my heart. -Genta-

Message deleted...

Tuesday, July 5, 2016

Maaf di Ujung Waktu

"Yudha udah punya baby, Nav?", tanya Zya polos.
"Entah, aku udah lama banget ga kontak dia", terang Nava.
"Ooh, harusnya dia minta maaf sama kamu dulu tuh biar cepet punya baby", Zya tergelak mendengar pernyataannya sendiri.
"Kok gitu? Apa hubungannya?", tanya Nava.
"Yaaa.. Ga ngerti, gue asal aja kok", Zya berusaha menyudahi perbincangan mereka yang entah ke arah mana.

***

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Nava terus mengingat pernyataan Zya tadi.

Yudha, pria dari masa lalu yang pernah membuka pagi dan menutup malam Nava dengan senyuman. Seketika dengan alasan dijodohkan, memutuskan Nava tanpa meminta persetujuan. Tiga bulan kemudian, Nava mendengar kabar dari Zya bahwa Yudha akan menikah. Dunia Nava sudah runtuh sejak malam dimana Yudha mengakhiri hubungan mereka. Empat tahun bersama seolah tidak menyisakan apapun.

Nava pernah berdoa dalam hati, bahwa sampai kapanpun Yudha tidak akan pernah bahagia. Tidak ada kata maaf. Apa Yudha pikir Nava bukan manusia. Apa Yudha pikir Nava tidak punya hati. Ya, pasti Yudha pikir Nava wanita yang kuat. Cukup kuat untuk merapal doa. Demi langit dan bumi, Nava tidak rela siapapun berbahagia atas sakit yang di dera hatinya.

Apa mungkin karena doanya itu, Yudha belum juga memiliki anak setelah dua tahun pernikahan? Nava mengulang pertanyaan yang berseliweran dikepalanya sejak bertemu Zya di kedai kopi.

***

"De, aku pergi keluar sebentar ya", Yudha meminta ijin pada istrinya, Dea.
"Iya, hati-hati kamu, Mas. Sampaikan maafku untuk Nava", Dea tersenyum lebar mengiringi kepergian suaminya.

Yudha berhasil menghubungi Nava, akhirnya. Sore ini mereka membuat janji untuk bertemu disebuah restoran yang cukup tenang. Yudha memalingkan wajahnya ke arah pintu cukup sering. Setelah tatapan ke-26, sesosok gadis yang ditunggu akhirnya muncul. Nava masih cantik seperti dulu, lebih cantik bahkan. Yudha tidak sadar membatin dalam hati. Sosok yang ia rindukan sejak lama saat ini berdiri dihadapannya. Kikuk. Yudha spontan berdiri menyambut kedatangan Nava dan mempersilahkan ia duduk.

"Hai, kamu apa kabar Nav?", Yudha membuka pembicaraan.
"Baik. Langsung saja katakan apa maksud pertemuan kita hari ini", Nava tidak ingin membuang waktu.

Ia takut jantungnya berdetak lebih cepat. Ia takut Yudha mendengar detak jantungnya. Yudha, pria yang selalu ia rindukan kini duduk dihadapannya. Tuhan, ujian apa lagi yang ingin kamu beri.

"Aa.. Aku ingin minta maaf", Yudha berusaha menatap mata Nava yang tertunduk.
"Untuk?", Nava pura-pura tidak mengerti.
"Dea, istriku, menitip maaf untukmu juga", Yudha tak kuasa menatap mata Nava yang kini mulai membulat marah.
"Untuk?", gemeretak gigi Nava cukup mengungkapkan apa yang ia rasa saat ini.
"Untuk hari-hari yang pernah aku dan Dea tinggalkan untukmu tanpa sepatah kata", Yudha memelankan suaranya.

Terlalu banyak hari yang Nava telah lewati. Hari ini akan menjadi salah satunya. Hari dimana ia bertemu Yudha. Untuk terakhir kali.

"Aku bukan malaikat", mata Nava mulai berani beradu pandang.
"Kamu boleh membenciku, Nav", jelas Yudha.
"Sudah ku lakukan sejak dulu, kamu ga perlu mempersilakan", Nava mulai ketus.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku dan Dea?", tanya Yudha gelisah.
"Ga ada", tegas Nava.
"Pernikahan ini bukan mauku", Yudha mulai putus asa.
"Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, dahulu. Kamu tau itu. Katakan apa yang ga kamu tau tentangku?", mata Nava menatap Yudha berusaha mencari kejujuran.
"Aku ga tau jika melepasmu akan sesulit ini", ucap Yudha lirih.

Kalau begitu jangan lepaskan aku. Suara-suara dikepala Nava mulai muncul.

"Aku ga bisa menjelaskan kenapa aku ninggalin kamu untuk dijodohkan dengan pilihan Ibu waktu itu", Yudha berusaha memperjelas.
"Kalau begitu jangan", Nava menatap rintik hujan yang mulai turun dijendela.
"Aku selalu berdoa untukmu agar kamu mendapatkan pria baik yang bisa menjagamu, Nav", ucap Yudha tulus.
"Terima kasih untuk doamu. Aku pergi. Selamat tinggal!", Nava pergi tanpa menoleh.

Yudha, aku belum bisa memaafkanmu meskipun aku ingin. Hingga nanti saatnya tiba, tolong menjauh dari kehidupanku.

***

Ceritanya kangen nulis, tapi ga tau mau nulis apa. Berhubung besok Lebaran, saat yang pas buat maaf-maafan dan jadilah cerita ini.

Sebagai manusia, punya rasa marah dan benci itu wajar banget. Saya ga akan meminta untuk mengurangi atau menghindari. Karena proses yang paling penting dari memaafkan adalah menyadari bahwa kamu masih membenci. Atau mencintai. Trust me. Time will heal it.

Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri!

Monday, July 4, 2016

Ayo Makan!

Padamu yang selalu makan banyak nasi karena kesepian
Padamu yang banyak tidur karena bosan
Padamu yang banyak menangis karena sedih
Aku menulisnya
Kunyah perasaanmu saat terpojok seolah kamu mengunyah nasi
Lagipula hidup adalah...
Sesuatu yang perlu kamu cerna

Sunday, May 10, 2015

29

Kebijaksanaan sesungguhnya datang dari kayanya pengalaman hidup
Bukan dari rentang usia yang banyak

Friday, May 8, 2015

Note To My Self

Otak pintar. Ide cemerlang. Rasanya semua jadi ga penting ketika seseorang memiliki low attitude. Ga perlu kelakuan setingkat mahadewa deh. At least, kamu menggunakan seluruh panca indera yang kamu punya untuk melakukan sesuatu yang baik.

Emang ga ada manusia yang sempurna sih. Who am i to judge. Tapi meskipun kamu ga sempurna, make sure kalo kelakuan kamu ga nyusahin orang lain. Apalagi sampai merugikan.

Wednesday, March 25, 2015

6 Jenis Teman Makan Siang

Pada sebuah makan siang, apa yang biasanya paling kamu nanti? Makanan enak? Tempat yang nyaman untuk menyandarkan punggung? Perut kenyang? Atau teman bicara yang menyenangkan?

Yes, adanya teman bicara seringkali jadi faktor utama kenapa kamu menantikan makan siang. Dengan adanya teman bicara, kamu bisa mengalihkan pikiran sejenak dari kemumetan pekerjaan hari itu. Hasil daripada observasi asal-asalan saya selama makan siang, saya mengklasifikasikan beberapa teman yang sekiranya bisa kamu temukan juga selama makan siang. :D

1. Teman Apa Adanya
Teman model gini biasanya niatnya lurus. Keluar makan siang emang beneran mau makan. Ga da modus apapun. Ciri-ciri teman apa adanya, begitu makan siang tersaji langsung khusuk ama makanan. Pandangan mata ga berpaling dari piring, bahkan hingga butir nasi terakhir. Duileee, serius amat kayak mo nikah besok!

2. Teman Tapi Mesra
Teman yang satu ini, begitu pantat nempel dikursi langsung mesra sama gadget. Ibarat pacaran baru sebulan dua bulan, masih posesip ga mau lepas. Begitu makanan dateng lebih posesip lagi ama gadgetnya, poto sini poto sana. Bukannya berdoa dulu malah poto-poto. Ga jarang temen makan siang malah dianggurin. *lah jadi curhat*

3. Teman Pak Tarno
Tau Pak Tarno, kan? Bapak yang terkenal dengan "Pok-pok-pok jadi apa sekarang?". Teman model Pak Tarno ini nanyaaa mulu kerjaannya, "Pok-pok-pok jadi dia gimana sekarang?". Kepo maksimal. Pengen tau aja apdetan seantero jagad raya. Curiganya pergi makan siang cuma kamuflase untuk dapetin bahan gosipan. *suudzon parah*

4. Teman Tanpa Beban
Teman yang kayak begini, kalo makan siang suka bahas hal-hal yang berat. Ga lebih berat dari berat badan saya sih, tapi tetep bikin jidat mengkerut. Seolah ga punya beban hidup, sambil meretelin paha ayam dengan entengnya nanya, "Menurut lo gimana caranya growth bisa terus bertumbuh kalo semua budget promosi harus dipangkas?". Ya lo pikir aja sendiri nyet! Lagi makan siang keleus!

5. Teman Curcol
Nah yang ini kebalikannya teman Pak Tarno. Kalo teman Pak Tarno kepo maksimal, justru teman yang satu ini seneng banget sale info tanpa perlu diminta. Dikit-dikit curhat. Jurus pamungkasnya adalah "tapi lo jangan kasih tau siapa-siapa ya", padahal bisa jadi kamu adalah orang terakhir yang tahu info tersebut.

6. Teman Konsultasi
Kalo deket-deket sama teman yang ini semua masalah pasti (kerasa) beres. Bukan dia bukan tukang ledeng, melainkan konsultan cabutan. Kalo curhat apapun sama dia, yang ada kamu akan diberikan wisdom-wisdom biar otak kamu tetep lurus di jalan-Nya, jalan yang Engkau ridhoi. Sungguh sangat positip ting-ting.

Nah, segitu dulu sahabat dan handai taulan semua.
Mungkin ada yang mau nambahin? :D

Just Saying

Sometimes it's easy for you to say that "you supposed to be like this, you supposed to be like that" when you're not on her or his shoes. People have their reasons to decide something. Inspite of all, you just have to stand on your feet now and make a new hope.